Majalah Wacana Iman Katolik dan Warta Terbitan KOMSOS PAROKI SALIB SUCI Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Paroki SALIB SUCI Sidoarjo Jatim
Selasa, 04 Januari 2011
Lagu Gregorian,..diteruskan atau dimusnahkan
Selasa, 21 Desember 2010
Rabu, 06 Oktober 2010
Senin, 28 Juni 2010
KOMUNI DI TANGAN,..MENGAPA ?
MAKLUMAT DARI KONGREGASI UNTUK IBADAT ILAHI DAN TATA TERTIB SAKRAMEN MENGENAI KOMUNI DI TANGAN
Tahta Suci, sejak 1969, seraya mempertahankan cara tradisional dalam membagikan komuni, juga memberikan kepada Konferensi-konferensi Waligereja yang memintanya, fasilitas untuk membagikan komuni dengan menempatkan hosti di tangan umat beriman.
Fasilitas ini ditetapkan dengan Instruksi Memoriale Domini dan Instruksi Immensae caritatis (29 Mei 1969: AAS 61, 1969, 541-546; 29 Januari 1973; AAS 65, 1973, 264-271) dan dengan Ritual De sacra Communione yang diterbitkan 21 Juni 1973, n. 21. Namun demikian, tampaknya tepat untuk memberikan perhatian pada point-point berikut:
1. Komuni di tangan hendaknya menunjukkan, sama seperti komuni di lidah, penghormatan yang pantas terhadap kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Oleh karena alasan ini hendaknya diberikan penekanan, seperti yang dilakukan oleh para Bapa Gereja, pada wibawa gerakan orang yang menyambut komuni. Demikianlah, pada akhir abad keempat kepada mereka yang baru dibaptis diajarkan untuk mengulurkan kedua tangan, “tangan kiri sebagai tahta bagi tangan kanan, yang menyambut sang Raja” (Katekese mistagogis Yerusalem yang kelima, n. 21: PG 33, kol. 1125, atau Sources chret., 126, h. 171; St Yohanes Krisostomus, Homili 47: PG 63, kol. 898, dll.) (Dalam praktek, petunjuk yang sebaliknya yang harus diberikan kepada umat beriman: tangan kiri ditempatkan di atas tangan kanan, agar hosti kudus dapat dimasukkan ke dalam mulut dengan tangan kanan.)
2. Lagi, seturut ajaran para Bapa Gereja, penekanan perlu diberikan atas pentingnya kata “Amin” sebagai tanggapan atas rumusan pelayan komuni, “Tubuh Kristus”; Amin ini adalah suatu penegasan iman: “Cum ergo petieris, dicit tibi sacerdos `Corpus Christi’ et tu dicis `Amen’, hoc est `verum’; quod confitetur lingua, teneat affectus” (St Ambrosius De Sacramentis, 4, 25: SC 25 bis, h. 116).
3. Orang yang menyambut komuni, yang telah menerima Ekaristi di tangan, wajib menyantap hosti sebelum kembali ke tempatnya, mengambil satu langkah ke samping dengan tetap menatap altar, demi memungkinkan orang berikutnya datang kepada pelayan.
4. Dari Gereja-lah umat beriman menyambut Ekaristi kudus, yang adalah communio dalam Tubuh Tuhan dan dalam Gereja; oleh sebab itu orang yang menyambut komuni tidak diperkenankan mengambil dari patena atau siborium, seperti yang akan dilakukan orang terhadap roti biasa, melainkan kedua tangan wajib diulurkan untuk menyambut komuni dari pelayan komuni.
5. Demi hormat terhadap Ekaristi, tangan wajib bersih, anak-anak perlu diingatkan akan hal ini.
6. Penting bahwa umat beriman menerima katekese yang efektif mengenai masalah ini, dan bahwa penekanan perlu diberikan atas perasaan sembah sujud dan hormat yang pantas terhadap Sakramen Mahakudus ini (bdk. Dominicae cenae, n. 11). Wajib diberikan perhatian agar serpihan hosti yang telah dikonsekrasikan tidak hilang (bdk. Kongregasi untuk Ajaran Iman, 2 Mei 1972: Prot. N. 89/71, in Notitiae 1972, h. 227).
7. Umat beriman tidak diwajibkan menerapkan praktek komuni di tangan; setiap umat beriman bebas untuk menyambut komuni di lidah atau di tangan.
Ketentuan-ketentuan ini dan juga ketentuan-ketentuan seperti dinyatakan dalam dokumen-dokumen yang disebutkan di atas bertujuan untuk mengingatkan kembali kewajiban untuk menghormati Ekaristi dan menerapkan secara independen cara dengan mana komuni disambut.
Mereka yang berkewajiban untuk memelihara jiwa-jiwa wajib menekankan tidak hanya pentingnya disposisi batin bagi penerimaan komuni yang bermanfaat, yang dalam perkara-perkara khusus membutuhkan pertolongan Sakramen Rekonsiliasi, melainkan juga sikap lahiriah yang mengungkapkan rasa hormat pada umumnya dan mengekspresikan secara istimewa keyakinan umat beriman terhadap Ekaristi.
Membuat Tanda Salib,..untuk apa ?
(Rm. Heribertus, SVD. : Pengantar Misa II – Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 30 Mei 2010)
I. PENGANTAR
Priiiitttttt, Peluit piala dunia telah ditiup. Genderang laga sepak bola dunia akan memukau jutaan pasang mata di seluruh belahan bumi. Di arena itu kita lihat pula bertaburan pemain yang memasuki arena dengan membuat Tanda Salib, atau teriakan gembira disertai Tanda Salib setelah gol tercipta. Kita bangga sambil menduga, “Pemain itu pasti Katolik”. Tapi tunggu dulu….. kenapa ada gerakan Tanda Salib yang tidak sama dengan yang kita lakukan? Apakah Tanda Salib yang tidak sama itu mempunyai makna yang sama? Lalu apa arti Tanda Salib??? Menurut pelajaran agama di sekolah minggu, garis lurus dari atas ke bawah melambangkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan – garis horisontal menyamping melambangkan hubungan antar sesama manusia. Keduanya harus seimbang, tidak miring-miring, sebagaimana harusnya relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hanya itu sajakah????
Dalam tulisan ini kita akan mencoba masuk lebih dalam lagi memahami Tanda Salib.
Benarkah Tanda Salib HANYA dilakukan oleh orang Katolik saja??? Apakah Tanda Salib ini mempunyai akar Alkitabiah? Apakah jemaat perdana juga menandai diri dengan Tanda Salib ? Bagaimana pandangan para bapa Gereja mengenai Tanda Salibi? Apa makna sesungguhnya yang terkandung dalam Tanda ini? Bagaimana seharusnya Tanda Salib ini dilakukan?
Semoga tulisan ini memperkaya pemahaman kita akan tradisi maupun teologi Katolik yang benar.
II. TANDA SALIB : TIDAK MELULU KATOLIK
Tanda Salib merupakan ritual gerakan tangan khas beberapa Gereja Kristen, meski tidak semua kelompok Kristen melakukannya. Ritual ini dilakukan dengan membuat gerakan simbol salib di udara atau di atas tubuh seseorang / sesuatu, disertai pengucapan rumusan Trinitaris. Tanda Salib senantiasa berhubungan dengan Misteri Keselamatan yang dilaksanakan Yesus secara paripurna melalui kematianNya di kayu salib Kalvari.
Tanda Salib bukan melulu milik jemaat Katolik Roma/Latin. Dengan berbagai variasinya, Tanda Salib digunakan juga oleh Gereja Barat lain (Anglikan, Lutheran, Episcopal, Presbiterian dan Metodis), Gereja Katolik Ortodox Ritus Timur , dan Ortodox Oriental. Gereja Evangelist dan Protestant modern sangat jarang menggunakan tanda ini, meski dalam katekismus kecilnya, Martin Luther merekomendasikan agar umat membuat Tanda Salib di saat tidur dan di saat bangun tidur. Beberapa reformis menolak Tanda Salib karena menganggapnya sebagai bagian dari praktek Gereja Katolik yang tanpa dasar biblis. Benarkah demikian?.....bersambung
I k u t i s e l e n g k a p n y a d i M a j a l a h M A W A S S e d i s i 6
Rabu, 16 Juni 2010
Selasa, 21 Juli 2009
CINTA dan KESETIAAN
Alkisah, di Perancis pada akhir abad 11, hiduplah 2 orang bernama Albelard dan Heloise. Albelard adalah seorang sarjana dan guru. Sedangkan Heloise adalah muridnya. Mereka berdua terlibat relasi khusus yang namanya cinta. Cinta mereka ini disertai kesetiaan yang kuat dan besar. Memang sudah tentu, orang yang saling mencintai harus menunjukkan kesetiannya. Adalah penipu kalau seseorang suka mengobral kata-kata cinta, tetapi tidak mempunyai kesetiaan. Sebab cinta dan kesetiaan itu tak dapat dipisah-pisahkan. Namun demikian relasi mereka ini tidak disetujui oleh paman Heloise. Pamannya adalah seseorang yang sangat berpen garuh di kota Paris, karena kedudukannya sebagai Kepala Katedral Notre Dame. Tetapi sungguhpun demikian cinta mereka tidak menjadi padam. Mereka sudah tidak bisa berpisah. Masing-masing sudah tidak dapat menahan rindu, sehingga merekapun menikah secara rahasia.
Mendengar hal itu paman Heloise menyewa satu geng pembunuh agar menyerang dan menganiaya Albelard. Tetapi rupanya Albelard mencium rencana itu. Maka ia pun berpikir, bahwa dirinya tidak cocok kalau tetap menjadi suami Heloise. Lalu ia masuk biara St. Denis dan menjadi biarawan. Demikian juga Heloise mencari suatu kehidupan agama, lalu menjadi biarawati. Dari sana mereka menulis surat-surat yang indah kepada tiap-tiap orang tentang pandangan hidup mereka. Pandangan mereka banyak tentang cinta dan kesetiaan. Mereka berdua akhirnya meninggal dan dikuburkan bersama-sama di Paris.
Kisah ini mengesankan sekali sehingga cinta dan kesetiaan mereka dapat dicontoh oleh pemuda pemudi yang berpacaran. Di jaman ini, tampaknya kata cinta lebih cenderung dihubungkan dengan uang. Maka sering kita dengar “ Ada uang – ada cinta.” Indikasinya jelas. Nyatanya akhir-akhir ini banyak isteri kabur setelah suaminya bangkrut. Pacar diambil orang karena tidak ada uang lagi. Seolah-olah cinta itu sekarang dapat dengan mudah dibeli dengan uang. Sehingga hal berganti-ganti pasangan ataupun rebutan pacar sudah merupakan sesuatu yang biasa. Tetapi cinta yang sejati sampai sekarang ini dapat diukur dari kesetiaan. Tanpa kesetiaan, kata-kata cinta itu tidak ada artinya. Albelard dan Heloise tadi tetap menjadi lambang cinta dan kesetiaan.
Dalam segala hal, sesungguhnya kalau tidak disertai cinta dan kesetiaan, menjadi semu. Itu sama halnya dengan sandiwara. Setiap sandiwara merupakan permainan yang dibuat-buat dan bersifat pura-pura. Dua insan yang tampaknya sangat mencintai dan penuh setia, dalam sandiwara itu hanyalah suatu permainan . Hati masing-masing pemain biasanya tidak ada rasa cinta, apalagi kesetiaan. Setelah bermain sandiwara, masing-masing akan bergandengan atau duduk mesra dengan kekasih mereka yang sebenarnya.
Nah rekan-rekan remaja dan saudara-saudara sekalian, dari kenyataan itu kiranya anda dapat berhati-hati dalam mencari teman hidup. Jangan asal orang mengatakan cinta, ia pasti setia kepada anda. Belum tentu ..... Untuk mengetahui kesetiaan seseorang atas cintanya perlu diuji dulu. Mungkin kita masing-masing-pun masih perlu nguji diri, apakah benar, kita mencintai Tuhan dengan penuh setia? Sebagaimana seorang pemuda yang mengaku cinta kepada seorang gadis, tentu ia tidak cukup dengan memujanya terus menerus, tetapi yang lebih penting adalah kesetiaannya. Demikianlah juga kalau seseorang mengaku mencintai Tuhan, maka ia-pun tidak cukup hanya memujanya setiap hari ( hari Selasa – Jum'at – Minggu ) tetapi kesetiaan kita kepada-Nya, lebih penting dari segala-galanya.
Tuhan hanya menekankan tiga hal bagi orang-orang yang mengasihi-Nya yaitu “ Keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.”
( Mat 23 : 23 )
( Romo Yosep )





