Rabu, 16 Juni 2010

Edisi 5 (April - Juni 2010)

Pilih mana : Berkat atau Kutuk ?

Tinjauan kritis atas sms pembawa berkat atau yang akan mendatangkan kutuk

Pengantar
Walau merupakan persoalan yang sudah cukup lama, namun sampai hari ini masih banyak di antara kita yang menerima sms berantai yang intinya berisi tawaran berkat bagi yang mengindahkan dan ancaman kutuk bagi yang mengabaikan. Oleh karena itu, MAWASS pada edisi ini menyajikan bahasan soal sms berantai atau surat berantai ini yang diambil dari buku :
Beriman Katolik dari Altar Sampai Pasar; Pustaka Nusatama, 2006; F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr; hlm. 178-183.

Selebaran Gelap
Sampai hari ini banyak di antara kita yang masih menerima atau menjumpai “selebaran rohani” berisi iming-iming janji berkat bagi yang mengindahkan isinya dan ancaman kutukan bagi yang mengabaikan. Biasanya kita diminta memfotokopi dan menyebarluaskannya. Atau, bila pesan dalam email, kita diminta untuk memforwardnya.
Entah lantaran tergiur iming-iming berkatnya atau takut akan ancaman kutukannya, banyak orang menurutinya. Begitu juga dengan teks novena, misal novena kepada Yudas Tadeus, ditambahkan syarat pengabulannya: “Novena ini didoakan 6 kali sehari selama 9 hari berturut-turut dan tinggalkan 9 lembar salinan doa ini di gereja tiap hari. Buatkan 81 salinan dan tinggalkan 9 lembar salinannya di gereja selama 9 hari berturut-turut, Anda akan menerima intensi doa sebelum hari ke-9 berlalu.” Pernah juga dulu ada selebaran tentang penglihatan Tuhan Yesus kepada paus yang berisi tentang bencana dan hari kiamat. Anehnya, mereka yang mau menyebarluaskan selebaran itu akan selamat dari malapetaka.
Semua “selebaran rohani” itu sebenarnya adalah sebebaran gelap. Sebab pengirimnya tidak jelas, kalaupun nama dan alamat pengirimnya dicantumkan, biasanya fiktif belaka. Berkaitan dengan doa-doa yang akan disebarluaskan dalam Gereja Katolik selalu dibutuhkan imprimatur (izin terbit) dari Uskup/wakilnya dan nihil obstat yang menyatakan bahwa isinya tidak bertentangan dengan susila dan iman Katolik. Jadi, tak perlu kita terkecoh dan terhasut oleh provokasi dari selebaran gelap itu.
Bisa jadi, selebaran gelap tersebut dibuat untuk membingungkan dan menggoyahkan keyakinan iman kita sebagai pengikut Kristus. Mari kita melihat “iming-iming berkat” dan “ancaman kutuk” tersebut dalam perspektif iman Katolik.

Hal Pengabulan Doa
Yang menarik untuk disimak dari selebaran tersebut adalah adanya kesan kuat bahwa penggandaan dan penyebarluasan selebaran dan teks doa itu menjadi syarat terkabulnya doa. Asalkan kugandakan dan kusebarluaskan, niscaya doa permohonanku terkabul. Di sinilah terjadinya bahaya takhayul. Seakan-akan Tuhan wajib mengabulkan doa kita, sebab kita telah “membayar” dengan menggandakan dan menyebarluaskan teks tersebut. Padahal untuk pengabulan doa, Tuhan tidak butuh suapan. Bahkan korban bakaran dan persembahan Israel kerap ditolak Tuhan, sebab Tuhan tidak memerlukan hal itu. “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya” (Mzm 50:12).
Dalam Injil dinyatakan dengan jelas, pelbagai syarat pengabulan doa:
Pertama, dipanjatkan dengan penuh iman. Banyak penderita sakit dan kelemahan mengalami kesembuhan berkat imannya akan kuasa dan kasih Yesus Kristus. Kepada ibu yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan dan menjamah jumbai jubah-Nya, Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mat 9:22). Iman ini juga nampak dalam ketekunan dan kesetiaan kita dalam doa, seperti janda yang tiada bosan mengetuk pintu hakim yang tidak benar (Luk 18:1).
Kedua, sejauh kita mau tinggal dalam dan bersama Kristus, artinya hidup dalam kasih. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Bila kita kurang berbuat kasih, niscaya sulit juga doa kita dikabulkan. Sebab dosa-dosa kita bisa menghalangi suara kita sampai di tempat yang mahatinggi (lih. Yes 59:2). Maka saat berdoa novena pun, kita dianjurkan juga menerima Sakramen Tobat. Tuhan juga tak akan mengabulkan permohonan manakala hal itu hendak kita habiskan untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak 4:3).
Ketiga, pentingnya dukungan doa dari orang lain. Sebab firman Tuhan, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:2). Begitu juga melihat iman mereka, iman si lumpuh dan iman keempat teman yang menggotongnya, Yesus tergerak hati untuk menyembuhkan (Mrk 5:2).
Iming-iming janji berkat dengan cara instan “doa + fotokopi” mengingatkan kita akan godaan si Jahat yang menyuruh Yesus secara instan mengubah batu menjadi roti (Luk 4:3). Permohonan yang meminta Tuhan membuat mukjijat selekas mungkin ini, tidak menunjukkan bahwa kita beriman pada Tuhan, sebaliknya justru mencobai Tuhan. Seru penjahat yang disalibkan bersama Yesus, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:29).
Memang Tuhan itu mahakuasa dan sanggup mengerjakan karya ajaib tanpa kita. Kendati demikian, Tuhan senantiasa mengajak kita untuk berusaha dan bekerjasama dengan rahmat-Nya. Kita ingat kisah mukjizat dalam perkawinan di Kana, di sana manusia harus mengisi tempayan dengan air terlebih dahulu (Yoh 2:7). Begitu juga dengan kisah pergandaan roti untuk menyenyangkan lima ribu orang, dibutuhkan lima roti dan dua ikan (Mrk 6:38) sebagai simbol modal dan usaha kita. Modal dan usaha yang kita persembahkan kepada Tuhan, niscaya akan diberkati Tuhan sehingga berlipat ganda.

Jangan Takut!
Yang mengherankan adalah selebaran gelap tersebut, berani mengancam siapa saja yang mengabaikan isinya, apalagi mereka yang sampai berani membuangnya. Tak sedikit pembaca yang kemudian mempercayainya, atau setidak-tidaknya berjaga-jaga jangan sampai celaka menimpa mereka lantaran mengabaikan selebaran itu. Bukankah ancaman demikian, tak jauh beda dengan pelbagai ancaman yang menghantui kita manakala mengabaikan perhitungan hari baik - hari buruk dan ancaman “Bathara Kala” bila kita tidak diruwat.
Jika hal itu yang terjadi, sebenarnya kita masih dibelenggu oleh ketakutan. Kepada kita yang telah dibaptis, St. Paulus mengingatkan, “Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu Anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15). Yesus Kristus adalah Injil, kabar gembira dari Allah. Sewaktu Dia lahir, malaikat berseru kepada Maria (Luk 1:30) dan para gembala (Luk 2:10), “Jangan takut!” Kata yang sama disampaikan Yesus waktu Dia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan setelah kebangkitan (Mat 28:10). Memang kita tak perlu takut, sebab Allah itu kasih (1 Yoh 4:8) , Dia tak akan menghukum dan mencelakai kita. Dialah Immanuel (Mat 1:23), Allah beserta kita, yang senantiasa melindungi kita (Mat 28:20). Bersama Yesus, siapa takut (Rm 8:35)?

Penutup
Maka kesimpulannya, bila kita menerima sms semacam ini, jangan mudah percaya dan tidak perlu diteruskan, karena justru akan menggoyahkan iman orang lain. Betapapun mulianya maksud sms berartai ini (misalnya menyerukan pertobatan), namum cara yang ditempuhnya sama sekali tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Memang, memberitakan kabar baik adalah tugas setiap orang, tetapi tentu tanpa harus iming–imingi sebuah janji dan menakut-nakuti orang lain. Segala setiap perkara apapun, janganlah kuatir tetapi nyatakanlah segalah hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4: 6).

Selasa, 21 Juli 2009

Simak Iklan ini sebaik-baiknya



Telah Terbit "MAWASS" Edisi ke 2

Segera !!! dapatkan,... bagi masih belum/kesulitan mendapatkannya silahkan menghubungi KOMSOS Paroki Salib Suci, di hotline 0812 178 8701

CINTA dan KESETIAAN

Berbicara tentang cinta, orang tidak bisa menutup diri untuk berbicara tentang kesetiaan. Bak kaus kaki, mereka mesti selalu bersama-sama pada hidup manusia, sebagaimana tidak ada orang waras atau normal tidak cuma memakai satu kaus kaki lalu membiarkan kaki satunya kosong. Demikianlah halnya cinta dan setia pada hidup manusia. Jika yang satunya ada atau diperhatikan dan digunakan, sedangkan yang lainnya tidak ada, maka pastinya hal itu rasanya dan kelihatannya, cepat atau lambat pincang, aneh, atau sedang bersandiwara, berpura-pura, ketoprak humor, atau main film sinetron. Sebagaimana kaus kaki yang satu melengkapi yang lainnya dan sebaliknya, demikian cinta melandasi kesetiaan dan kesetiaan menjadi tolok ukur cinta.
Alkisah, di Perancis pada akhir abad 11, hiduplah 2 orang bernama Albelard dan Heloise. Albelard adalah seorang sarjana dan guru. Sedangkan Heloise adalah muridnya. Mereka berdua terlibat relasi khusus yang namanya cinta. Cinta mereka ini disertai kesetiaan yang kuat dan besar. Memang sudah tentu, orang yang saling mencintai harus menunjukkan kesetiannya. Adalah penipu kalau seseorang suka mengobral kata-kata cinta, tetapi tidak mempunyai kesetiaan. Sebab cinta dan kesetiaan itu tak dapat dipisah-pisahkan. Namun demikian relasi mereka ini tidak disetujui oleh paman Heloise. Pamannya adalah seseorang yang sangat berpen garuh di kota Paris, karena kedudukannya sebagai Kepala Katedral Notre Dame. Tetapi sungguhpun demikian cinta mereka tidak menjadi padam. Mereka sudah tidak bisa berpisah. Masing-masing sudah tidak dapat menahan rindu, sehingga merekapun menikah secara rahasia.
Mendengar hal itu paman Heloise menyewa satu geng pembunuh agar menyerang dan menganiaya Albelard. Tetapi rupanya Albelard mencium rencana itu. Maka ia pun berpikir, bahwa dirinya tidak cocok kalau tetap menjadi suami Heloise. Lalu ia masuk biara St. Denis dan menjadi biarawan. Demikian juga Heloise mencari suatu kehidupan agama, lalu menjadi biarawati. Dari sana mereka menulis surat-surat yang indah kepada tiap-tiap orang tentang pandangan hidup mereka. Pandangan mereka banyak tentang cinta dan kesetiaan. Mereka berdua akhirnya meninggal dan dikuburkan bersama-sama di Paris.
Kisah ini mengesankan sekali sehingga cinta dan kesetiaan mereka dapat dicontoh oleh pemuda pemudi yang berpacaran. Di jaman ini, tampaknya kata cinta lebih cenderung dihubungkan dengan uang. Maka sering kita dengar “ Ada uang – ada cinta.” Indikasinya jelas. Nyatanya akhir-akhir ini banyak isteri kabur setelah suaminya bangkrut. Pacar diambil orang karena tidak ada uang lagi. Seolah-olah cinta itu sekarang dapat dengan mudah dibeli dengan uang. Sehingga hal berganti-ganti pasangan ataupun rebutan pacar sudah merupakan sesuatu yang biasa. Tetapi cinta yang sejati sampai sekarang ini dapat diukur dari kesetiaan. Tanpa kesetiaan, kata-kata cinta itu tidak ada artinya. Albelard dan Heloise tadi tetap menjadi lambang cinta dan kesetiaan.
Dalam segala hal, sesungguhnya kalau tidak disertai cinta dan kesetiaan, menjadi semu. Itu sama halnya dengan sandiwara. Setiap sandiwara merupakan permainan yang dibuat-buat dan bersifat pura-pura. Dua insan yang tampaknya sangat mencintai dan penuh setia, dalam sandiwara itu hanyalah suatu permainan . Hati masing-masing pemain biasanya tidak ada rasa cinta, apalagi kesetiaan. Setelah bermain sandiwara, masing-masing akan bergandengan atau duduk mesra dengan kekasih mereka yang sebenarnya.
Nah rekan-rekan remaja dan saudara-saudara sekalian, dari kenyataan itu kiranya anda dapat berhati-hati dalam mencari teman hidup. Jangan asal orang mengatakan cinta, ia pasti setia kepada anda. Belum tentu ..... Untuk mengetahui kesetiaan seseorang atas cintanya perlu diuji dulu. Mungkin kita masing-masing-pun masih perlu nguji diri, apakah benar, kita mencintai Tuhan dengan penuh setia? Sebagaimana seorang pemuda yang mengaku cinta kepada seorang gadis, tentu ia tidak cukup dengan memujanya terus menerus, tetapi yang lebih penting adalah kesetiaannya. Demikianlah juga kalau seseorang mengaku mencintai Tuhan, maka ia-pun tidak cukup hanya memujanya setiap hari ( hari Selasa – Jum'at – Minggu ) tetapi kesetiaan kita kepada-Nya, lebih penting dari segala-galanya.
Tuhan hanya menekankan tiga hal bagi orang-orang yang mengasihi-Nya yaitu “ Keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.”
( Mat 23 : 23 )

(
Romo Yosep )


Paroki Salib Suci live in Puhsarang Kediri


Yang telah terselenggara pada Minggu 12 Juli 2009 dan dimeriahkan oleh Kolaborasi Paduan Suara antar Wilayah, Crux Salve, SUPRABA, Regina Caeli, Sacro Sanctae,....didukung juga oleh kelompok Misdinar St. Tarsisius...serta seluruh pengurus Dewan Pastoral untuk pelaksanaan Tata tertib

Selasa, 14 Juli 2009

Kirim artikel Anda

ke : degelima@gmail.com, fransiskaestuning@gmail.com, atau mawass@parokisalibsuci.org

Hati yang mendua

Berawal dari suatu pagi, sebuah peristiwa kecil yang memancing hati harus bertanya dan bertanya. Langkahnya berjalan gesit dan tangannya menghimpit Kitab Suci, dia seorang Katolik, senyumnya ramah ketika ditanya : “Mau kemana Pak?” Jawabnya dengan tegas : ”Mau doa pagi!” Keheranan semakin menjadi, doa pagi saja harus berkumpul di suatu tempat, bukan rumah sembayang, bukan gereja, tapi rumah sebuah keluarga. Pengikutnya bukan hanya orang Katolik saja, namun bersama dengan orang-orang yang non Katolik. Mereka berkumpul berdoa, bernyanyi bersama, membaca Kitab Suci, sehingga bisa memberikan suatu kelegahan dalam hati mereka.
Dengan kelegahan itu yang satu bisa membawa orang lain. Bukankah doa pagi bisa dilakukan di rumah? Dan baik sekali bila dilakukan bersama sama dengan keluarga sendiri. Namun, mereka telah terjebak dalam “Hati yang mendua” Seharusnya mereka sadar, bahwa mereka telah terlahir kembali dengan permandian Katolik, namun mengapa mau melewati koridor yang bukan Katolik. Mereka sudah tidak ingat lagi ketika menjadi katekumen, yang diajarkan bukan saja upaya menerangkan ajaran dan perintah perintah ilahi, melainkan juga dihantar dan dilatih cara hidup kristiani, yang menghubungkan murid dengan Sang Gurunya.

Secara bertahap iman mereka diterangkan dan melalui upacara upacara, para katekumen dihantar menuju hidup kristiani, sampai diterima umat dengan sakramen inisiasi yaitu :
Pembaptisan, penguatan dan Ekaristi. Akhirnya mereka hidup dalam dua dunia kristiani yang berbeda. Mereka lupa akan syahadat yang pernah diucapkannya : . . . . . aku percaya akan Roh Kudus, gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus . . . . . . . . .dstnya.
Orang terkadang berkata, untuk menjadi seorang Katolik saja begitu sulit!
Benarkah ?
Untuk dipermandikan secara Katolik harus mengikuti pelajaran (menjadi katekumen) selama kurang lebih satu tahun. Memang, ini diberikan kepada orang orang yang akan dipermandikan secara Katolik, agar mereka betul-betul tahu tata cara hidup sebagai orang Katolik. Mempunyai iman Katolik yang kuat dan dewasa. Melalui proses inisiasi yang meliputi pembinaan bertahap manusia seluruhnya, supaya menjadi orang yang mengenal iman Kristiani (pembinaan doktrinal), menghayatinya (pembinaan rohani), hidup dalam dan bersama dengan umat (pembinaan liturgis) dan bersedia menjalankan pengutusan (pembinaan apostolis). Namun agaknya sekarang sudah menjadi model yang bisa menjadikan orang Katolik secara instan, tanpa melalui katekumen, asal ada kemauan untuk dibaptis, langsung bisa menerima sakramen baptis, yang juga diberikan oleh seorang imam tertabis. Ini sangat luar biasa, dan berdasarkan sabda Yesus yang mengatakan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat.28 :19), maka
dibaptiskanlah orang melalui perantara yang sudah dekat dan “berlangganan” kepada imam tersebut. Suatu pertanyaanpun timbul kembali.

Siapakah yang bersalah dalam hal ini, imamnya ? orang orang yang dibaptis? Ataukah perantaranya? Yang jelas praktik seperti ini akan membuahkan para baptisan memilik pedoman iman Katolik yang kurang kuat, akhirnya mudah terjebak untuk tidak berjalan pada koridor Katolik, dan mudah memiliki “Hati yang mendua”. Hal seperti ini pasti terjadi pada beberapa wilayah di paroki, dan yang pasti ini akan menjadi hal yang sangat mengecewakan para Ketua wilayah dan Ketua Lingkungan ataupun Ketua kelompok bila ada, dan mau tidak mau harus memikirkan bagaimana menanggapi hal hal seperti ini.
Untuk itu, “EROSI IMAN” pada majalah MAWASS edisi pertama hendaknya betul betul perlu diperhatikan. Bukan banyaknya namun terutama mutunya. (Non multa sed multum). oleh Yos/red

Kamis, 11 Juni 2009

Masih perlukah menyembah Maria ?


Sudah sering, sudah lama bahkan mungkin kita sudah bosan mendengarkan orang bertanya dan mengomentari:.
MENGAPA ORANG KATOLIK MENYEMBAH MARIA.
Bukankah Maria itu manusia biasa seperti kita juga?
Menyembah Maria . . .? Ah, nggak alkitabiah.
Maria Bunda Allah . . . ? Ah, absurd, Allah koq punya ibu.
Berdoa di depan patung Maria . . . ? Ah, itu kan menyembah berhala.
Berziarah ke gua Maria . . . ? Ah, itu kerjaan orang nganggur yang hobi nglencer.
Maria itu ibarat botol kecap, dan Yesus adalah kecapnya.
Jadi, kita manfaatkan kecapnya, botolnya nanti dibuang atau dirombeng aja.
Maria itu ibarat selang (pipa) dan Yesus adalah airnya.
Jadi Yesus hanya numpang lewat selang (pipa) itu.
Dan selang (pipa) itu akan segera menjadi kering setelahnya (atau malah berlumut?)
Daftar pertanyaan yang semacam itu masih sangat panjang.
Nah, itulah virus-virus anti-Maria yang bertebaran di sekitar kita.
Bahkan, ada juga orang Katolik yang, karena sudah terjangkiti virus itu, ikut-ikutan bertanya semacam itu..........

Ikuti lanjutannya di Majalah "MAWASS" Edisi 2 yang terbit akhir bulan ini.
Untuk Pemasangan Iklan & berlangganan hubungi 031-713 91 998