Selasa, 06 Juli 2010

Biarlah anak-anak datang padaKu,...(dengan tertib)

1. PENGANTAR
Dalam suatu kesempatan, setelah misa, terjadi dialog di antara beberapa orang berkaitan dengan situasi misa yang baru mereka ikuti.
Rupanya. tema panas yang sedang mereka perbincangkan adalah mengenai sikap Romo yang terkesan reaktif, saat mendengar suara ramai anak-anak pada saat ibadat sedang berlangsung.
Bahkan, pada saat itu, Romo langsung mengangkat muka dan mengarahkan pandangannya ke arah asal sara itu (dan tentunya, misa sejenak terhenti).
Inilah pokok masalahnya.
Rupanya para peserta dialog tidak resmi itu sepakat, bahwa Romo terlalu kaku. Bahkan sepakat pula dalam memberikan kesan dan penilaian bahwa Romo tidak suka kepada anak-anak.
Celoteh lebih jauh lagi (mdah-mudahan maksudnya bergurau), bahwa: Romo bersikap seperti itu, tidak suka kepada anak-anak karena Romo tidak pernah merasakan punya anak, tidak pernah merasakan menjadi orang tua. Lebih hebat lagi, bahkan mereka mengutip ayat Kitab Suci. Katanya: “Bukankah dalam Kitab Suci tertulis, bahwa Yesus memarahi orang yang menghalangi anak-anak yang datang kepada-Nya?”
Dalam kesempatan ini, mari kita mencermati dengan sedikit sabar dan cermat, apa yang sebenarnya terjadi.

2. CIRI dan SUASANA MISA
Tentu perlu kita menyamakan pemikiran terlebih dahulu, bahwa ‘MISA’ adalah satu bentuk ibadat.
Dan misa, dalam tata liturginya,harus mengikuti tata aturan yang telah ditetapkan (antara lain: Tata Perayaan Ekaristi, Pedoman Umum Misa Romawi, Sacrosanctum Concilium, dan lain sebagainya).
Semua itu bertujuan demi terciptanya suasana misa yang sakral namun partisipatif, meriah namun tertib, khusyuk dan tentunya, dengan segala tata-gerak dan sikap hati yang pantas penuh penghayatan.
Ciri dan suasana ini tetap hars ada pada setiap misa, baik misa dengan intensi gembira (misalnya: ulang tahun) ataupn dengan intensi sedih (kematian, dll.).

3. REFLEKSI SITUASI DALAM KITAB SUCI
“Bukankah Kitab Suci tertulis, bahwa Yesus memarahi orang yang menghalangi anak-anak yang datang kepada-Nya?”
Demikianlah penggalan dialog di atas.
Tentu yang dimaksud oleh umat tersebut adalah Mrk.10:14:
Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah, dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” atau Luk. 18:16:
Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
Atas ayat-ayat itu, baiklah kita sejenak mundur, melihat situasi dan latar-belakang (alasan) Yesus mengeluar-kan kata-kata itu.
Latar belakang siatuasi yang ada pada saat itu adalah: Yesus selesai bertanya-jawab dengan orang Farisi, dan sudah sampai di rumah, saat di rumah itulah, para murid dan Yesus membahas kembali tema pembicaraan yang terjadi dengan orang Farisi tadi. Ketika itulah, ada orang yang mebawa anaknya kepada Yesus, dengan tujuan agar Yesus menjamah anak itu.
Penting kita perhatikan, bahwa suasana / situasi pada waktu itu bukan saat ibadah. Situasi itu terjadi di luar saat ibadah.
Memang ada suatu yang menarik dalam ayat itu bila kita melihat aspek budaya / kebiasaan orang Yahudi.
Dalam tata cara / sopan santun orang Yahudi, pada saat orang-orang dewasa (yang bukan keluarga) sedang berbicara, anak-anak tidaklah terlibat dalam pembicaraan itu.
Dalam konteks ini, seolah Yesus ingin menyampaikan dan mengingatkan kita bahwa anak-anakpun merupakan bagian dari Kerajaan Allah. Terlebih lagi bila kita melihat apa yang ada pada anak-anak kecil, tidak lain adalah: polos, jujur, membutuhkan bimbingan dan perlindungan, jauh dari sikap sombong dan menyombongkan diri.

4. REFLEKSI SITUASI KONTEKSTUAL
Kembali kita menengok pembicaraan / dialog antar-umat di atas. Situasi yang mereka bahas adalah situasi ‘pada saat misa beerlangsung’.
Ini adalah latar belakang yang berbeda dengan siatuasi atau latar belakang suasana yang ada pada ayat yang dikutip.
Misa adalah suatu ibadah.
Suasana dalam misa, tentunya adalah suasana ibadah.
Dan Misa, mempunyai dan harus berlangsung dalam ciri dan suasana yang khas sebagaimana tertulis di atas.
Maka, kata-kata / kalimat: “Bukankah dalam Kitab Suci tertulis, bahwa Yesus memarahi orang yang menghalangi anak-anak yang datang kepada-Nya?”, tidaklah tepat untuk dipakai dalam konteks pembicaraan / dialog di atas.
Di sini rupanya terjadi pengutipan yang ‘tidak pas’, karena situasi dan kondisi pada saat Yesus berbicara tidak sama/tidak identik dengan situasi dan kondisi pada saat Misa.

5. BAGAIMANA SEHARUSNYA . . . . . ?
‘Membawa anak-anak kepada Yesus’ adalah suatu tindakan dan kebiasaan yang baik, bahkan kita merasa’ wajib’.
Ada banyak cara utnuk membawa anak-anak kepada Yesus. Bisa dengan pengajaran agama, bisa dengan membiasakan berdoa, atau dengan membiasakan membawa mereka ke gereja, mengikuti Perayaan Ekaristi / Misa.
Namun, masing-masing cara itu tentu perlu dilakukan dengan menyesuaikan kondisi.
Nah, inilah yang sebenarnya menjadi sorotan yang perlu dicermati.
Membawa serta anak-anak untuk mengikuti Perayaan Ekaristi / Misa, tentunya orangtua harus menyesuaikan dengan suasana Misa yang seharusnya dibentuk.
Di sinilah para orangtua, sebagai umat, wajib untuk ikut menjaga, agar suasana dalam Misa tidak terganggu oleh ulah / celoteh anak (-anak)nya.
Bentuk gangguan itu bisa berupa tindakan ataupun suara. Dan dampak gangguan bisa terhadap terpecahnya konsentrasi Romo, atau sesama umat yang sedang khusyuk mengikuti misa.
Dalam hal ini, para orangtua seharusnya mencoba memaknai kata-kata: Membawa kepada Yesus.

Mengikut-sertakan anak dalam Misa, memang sekilas bisa diartikan: Membawa kepada Yesus.
Namun ada yang lebih esensi dari sekedar: pokoknya ikut Misa di dalam gereja, berarti datang kepada Yesus.
Kita tentu mengerti (seharusnya mengerti...?) bahwa untuk mengikuti Misa, kita perlu persiapan, baik persiapan panjang (mulai dari hari-hari sebelumnya) maupun persiapan pendek (beberapa saat setelah kita berada di dalam Gereja).
Perlunya persiapan itu tentunya agar kita ‘layak’ mengikuti Perayaan Misa Kudus itu, baik secara fisik-ragawi, maupun secara jiwa-spiritual.
Dan itu semua diperlukan agar kita benar-benar dapat mengikuti dengan baik dan penuh penghayatan setiap tahapan dari Misa itu. Untuk itulah perlu suasana yang tertib.
Menjaga suasana tertib itu menjadi kewajiban semua umat yang ikut merayakan Misa.
Dengan ketertiban, Misa dapat terlaksana dengan semestinya, baik dari sisi Imam maupun umat.
Dalam konteks yang kita bahas, bila dalam / selama berlangsungnya Misa, banyak terjadi tangisan / jerutan / teriakan anak-anak, maka tentu suasa tertib sudah tidak ada lagi. Dalam hal yang demikian, bukan hanya Imam yang bisa terganggu. Umat yang lainpun terganggu, hilang konsentrasinya, merasa tidak nyaman, dan akhirnya tidak bisa mengikuti Misa dengan baik. Inilah yang harus kita hindari.
Karenanya setiap umat wajib menjaga ketertiban, bukan malah menciptakan ketidak-tertiban (baik karena diri sendiri maupun karena anak-anaknya) yang bisa menciderai kesakralan Misa.
‘Membawa anak-anak kepada Yesus’ dalam konteks Misa, selain berarti membiasakan anak-anak untuk merayakan Ekaristi, juga harus berarti membiasakan / mengajarkan kepada anak-anak untuk menghayati dan mengikuti Misa dengan tertib.
Bagaimana dengan anak-anak yang belum memahami arti ‘tertib’, ‘tenang’ (anak-anak usia di bawah 3 tahun, misalnya)?
Nah, di gereja Salib Suci ada Balai Paroki, Lantai 1 dan Lantai 2 yang bisa dipakai, sedemikian sehingga Perayaan Ekaristi bisa berlangsung dengan baik.

6. PENUTUP
“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, . . . . “
Kata-kata Yesus itu sesungguhnya merupakan tantangan bagi kita, bagaimana kita bisa dan mau mendidik anak-anak, antara lain untuk mengikuti Ekaristi dengan layak.
Kata-kata Yesus itu bukanlah dalih yang bisa kita pakai kertika anak-anak kita membuat kegaduhan yang menciderai suasana Misa.
Perlu kita menyadari, bahwa umat yang lain, perlu juga ‘datang kepada Yesus’. Mereka perlu suasana yang baik agar bisa menghayati Misa dengan baik dan layak.
Mereka berhak untuk tidak terganggu, termasuk gangguan yang ditimbulkan oleh suara dan tingkah anak-anak.
Semoga kita bisa berbenah bersama.(SSA)

Tidak ada komentar: